Menkes Targetkan 10.600 Alat Deteksi TBC pada 2027
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan 10.600 unit alat diagnostik molekuler untuk deteksi TBC tersedia pada 2027.

NARASINDO.ID, BADUNG – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan penyediaan 10.600 unit alat diagnostik molekuler untuk mendeteksi tuberkulosis (TBC) pada 2027.
Target itu disampaikan dalam gelaran bersama Delft Imaging di Sunset Road, Kabupaten Badung, Bali.
Menkes Budi menyebut pemerintah telah memulai penerapan program skrining TBC baru pada 2026. Saat ini, sekitar 4.000 unit alat diagnostik molekuler near point of care telah disiapkan.
“Menjelang akhir tahun 2026, kita akan memiliki sekitar 4.000 perangkat diagnostik molekuler near point of care, yang jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 10.600 unit. Perangkat ini akan didistribusikan ke puskesmas-puskesmas yang tersebar di 7.000 pulau untuk melayani 290 juta penduduk Indonesia,” kata Budi.
Tak hanya alat molekuler, pemerintah juga gencar memasang mesin rontgen. Tahun ini, 800 unit mesin rontgen portabel dan bergerak telah dipasang.
Pada 2027, pemerintah berencana menambah 4.000 unit lagi. Dengan begitu, pada 2028 ditargetkan 10.000 puskesmas telah dilengkapi fasilitas rontgen dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Tahun ini, kita telah memasang 800 unit mesin sinar-X, baik yang bersifat portabel maupun mobile. Tahun depan, kita akan menambah 4.000 unit lagi, sehingga pada tahun 2028, seluruh puskesmas, yang berjumlah 10.000 unit, akan dilengkapi dengan mesin sinar-X berteknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan skrining tuberkulosis di 7.000 pulau berpenghuni tersebut,” ujarnya.
Dengan infrastruktur itu, Budi berharap kapasitas skrining bisa menjangkau sekitar 10 juta orang. Jumlah itu setara 10 kali estimasi beban TBC Indonesia.
“Kami berharap dapat melakukan skrining terhadap sekitar 10 juta orang—jumlah yang setara dengan 10 kali lipat estimasi beban kasus TBC di Indonesia—menggunakan mesin sinar-X dan diagnostik molekuler di tingkat puskesmas,” ungkapnya.
Delft Imaging mengumumkan lebih dari dua juta orang di Indonesia telah menjalani skrining TBC menggunakan CAD4TB, perangkat lunak berbasis AI.
Sementara itu, CEO sekaligus Founder Delft Imaging Guido Geerts menilai eliminasi TBC membutuhkan inovasi berkelanjutan, kolaborasi erat, serta komitmen memperluas akses layanan kesehatan hingga ke komunitas terpencil.
“Bagi saya, mendukung upaya Indonesia dalam mengatasi TBC bukan sekadar komitmen profesional, tetapi juga memiliki makna pribadi. Ibu saya lahir di Indonesia, dan sepanjang hidup saya, saya memiliki ikatan yang kuat dengan negara ini,” tuturnya.
Guru Besar Pulmonologi Prof. Erlina Burhan menekankan pentingnya skrining aktif untuk menemukan kasus lebih dini, terutama pada kelompok berisiko.
“Sebagian orang mungkin belum menyadari gejalanya atau mengalami keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Padahal, keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko penularan,” jelasnya.
Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, WHO mencatat Indonesia termasuk dalam delapan negara yang menyumbang sekitar dua pertiga kasus TBC dunia. Indonesia diperkirakan berkontribusi sekitar 10 persen terhadap total kasus TBC global.
WHO memperkirakan lebih dari satu juta orang mengalami TBC di Indonesia pada 2025, dengan sekitar 134 ribu kematian setiap tahunnya. Artinya, setiap menit dua orang terinfeksi TBC dan setiap empat menit satu orang meninggal akibat penyakit tersebut.
Pemerintah berharap biaya pemeriksaan molekuler dapat ditekan hingga di bawah 3 dolar AS mulai 2027. Dengan dukungan Global Fund, biaya pemeriksaan molekuler saat ini telah turun menjadi 3,6 dolar AS per tes. ***

